Loading...
Moral orang sekarang sudah makin edan saja. Memang benar kata-kata ustad kalau tanda-tanda kiamat sudah mulai tampak disekitar kita. Salahsatunya yang terjadi di keluarga Ny. Giarti berikut ini

Awalnya banyak yang menilai Ny. Giarti, 55, ini wanita budiman tiada tandingan. Ada balita miskin diadopsi sebagai anak angkat. Ternyata setelah balita itu jadi remaja tampan, justru Dalijo, 25, dijadikan pemuas syahwat. Sang suami, Pak Gito, 60, begitu tahu kelakuan istri jadi stroke dan akhirnya meninggal.

Awalnya banyak yang menilai Ny. Giarti, 55, ini wanita budiman tiada tandingan. Ada balita miskin diadopsi sebagai anak angkat. Ternyata setelah balita itu jadi remaja tampan, justru Dalijo, 25, dijadikan pemuas syahwat. Sang suami, Pak Gito, 60, begitu tahu kelakuan istri jadi stroke dan akhirnya meninggal.
Syahwat itu memang termasuk hak azasi manusia. Cap apapun orangnya pasti punya. Hanya saja, ada yang mampu mengendalikan, banyak pula yang kedodoran. Padahal dalam urusan satu ini, orang suka berbuat hal-hal yang tak masuk akal, meski akhirnya berakibat fatal. Hanya karena memanjakan syahwat, yang malu bukan dirinya sendiri, tapi juga keluarga berikut jajarannya.
Kisah memalukan dari kota kidul Surakarta ini memang memalukan dari awal hingga akhir. Giarti menikah dengan Gito sekitar 30 tahun juga akibat program LKMD dalam arti: Lamaran Keri Meteng Disik (baca: hamil duluan). Tapi anak hasil ngebon duluan itu meninggal saat bayi. Celakanya, sejak itu Giarti tak memiliki anak lagi.
Lima tahun nikah resmi, hasilnya hanya kringeten thok setiap malam. Sadar akan kemandulan dirinya, keluarga yang kala itu masih tinggal di Semarang ini lalu mengadopsi bayi lelaki umur satu tahunan. Setelah itu mereka pindah ke kampung halamannya di Sukoharjo. Di samping ada lahan penghidupan baru di sana, sekaligus untuk memutus mata rantai riwayat anak angkat itu.
Maklum, manusia “lambe turah” dan “lambe nggambleh” di mana saja selalu ada. Jika tetap tinggal di Semarang, dikhawatirkan ada yang tahu bahwa anak itu hanya adopsi, bukan hasil produksi sendiri. Meskipun si anak tidak tahu sejarah hidupnya, bisa tetangga si “lambe nggambleh” dan si “lambe turah” akan ngomong di kemudian hari. Ini bisa mengancam dan menggradasi kasih sayang anak pada orangtuanya.
Demikianlah, anak angkat bernama Dalijo ini dirawat sebagaimana mustinya. Di sekolahkan dan dikuliahkan, kemudian dinikahkan. Tapi sebelum sampai ke jenjang perkawinan Dalijo, kisah-kisah kelam menyertai kehidupan anak ini. Ketika bocah itu sudah beranjak dewasa dan mengerti perempuan, justru dimanfaatkan oleh ibu angkatnya sendiri, Ny. Giarti.
Ny. Giarti ini agaknya perempuan yang bergairah tinggi. Semakin tua, suami tak bisa lagi mengimbangi. Akhirnya Dalijo yang tumbuh sebagai anak remaja yang cukup ganteng, justru bikin ibu angkatnya “mak theng” (baca: bergairah). Anak muda itu dipancing-pancing, sehingga akhirnya perbuatan terkutuk antara anak dan ibu angkat itu terjadi. Sejak itu Ny. Giarti tak perduli lagi biarpun suami sudah tidak lagi rosa-rosa seperti Mbah Marijan.
Sebagai lelaki normal, di luar rumah Dalijo punya pacar dan akhirnya menikah. Sejak itu keduanya misah sendiri, dibelikan rumah masih di kota yang sama. Di sinilah Ny. Giarti mulai merasa kesepian, karena tak dapat lagi cas-casan seperti biasanya. Untuk kembali seperti dulu, dia langsung pura-pura sakit, dengan maksud agar anak angkatnya membesuk. Bahkan katanya, jika tak ditunggui Dalijo, takkan mau minum obat.
Ternyata, Dalijo datang malah dikumbah (diomeli), dituduh anak tak tahu balas budi. Diceritakan sekalian siapa aslinya dia. Tentu saja Pak Gito kaget kenapa istri bongkar rahasia perusahaan? Tapi makin kaget lagi ketika Dalijo juga mengaku bahwa selama ini dijadikan pemuas syahwat ibu angkatnya. Karena kaget dua kali, Pak Gito terkena stroke dan meninggal.
Rupanya Dalijo selama ini jadi “jaka tingting” alias perjaka tingkrang-tingkring.
Sumber : poskota.com
Loading...
WANITA BEJAD...!!! ANAK ANGKAT SENDIRI DIJADIKAN PEMUAS NAFSU SYAHWAT....SUAMI JADI SHOCK DAN MENINGGAL
4/
5
Oleh
Unknown